Senin, 23 Februari 2009

Transfer Ilmu dan Bagikan Cinta

Transfer Ilmu dan Bagikan Cinta
17 Feb 2009
Definisi apa yang Anda berikan untuk kata guru? ''Guru iku digugu lan ditiru''. Demikian orang Jawa bilang. Terjemahan bebasnya kira-kira, guru itu (omongannya) diperhatikan dan (tindakannya) dijadikan panutan. Sungguh mulia! ''Guru itu orang tua kedua''. Ini anggapan banyak orang, karena guru bertugas mendidik siswa di sekolah. Memang istimewa, tapi berat. ''Guru itu hanya cameo''. Tak ada artinya. Itu gambaran yang sering tampak pada tayangan sinetron Indonesia, dan tokoh guru muncul sebagai pelengkap untuk kemudian dijadikan bahan olokan murid-muridnya.

Sang guru benar-benar tak punya wibawa. Mau berpetuah apa juga tak ada pentingnya. Kasihan betul! ''Guru itu preman''. Untuk julukan ini, ingatan kita akan melesat cepat pada tindakan premanisme guru di Gorontalo dan Jombang. Tak perlu banyak komentar, sebab tingkah memukul-mukul siswa model begitu memang hanya tindakan preman. Memalukan sekali! ''Guru itu sumber inspirasi. Pembakar semangat untuk meraih mimpi. Hadirnya selalu dirindui''. Indah nian! Seorang murid akan melukiskan kata-kata seindah ini jika dia memperoleh pengalaman yang menyenangkan tentang gurunya.

Bagi murid, keikhlasan guru adalah cahaya, cintanya adalah oase, dan pengabdiannya adalah motivasi mereka untuk berjuang mengubah nasib. Seperti itu kira-kira sosok Ibu Muslimah, tokoh inspiratif gambaran Andrea Hirata. Dari kisah yang fenomenal ini, sejenak kemudian kita tersentak akan apa dan bagaimana makna guru sebenarnya. Beginikah seharusnya konsep seorang guru? Tentu, begitulah seharusnya. Guru itu tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tapi juga memberi cinta dan kedamaian. Pertanyaannya, sulitkah ini dilakukan?

Selain sebagai homo sapiens (manusia berpikir), anak merupakan homo volens (manusia berkeinginan) dan homo ludens (manusia bermain). Tiga unsur ini melakonkan perannya secara bersamaan di sekolah. Sama kuatnya dengan yang diperankan di rumah. Sosok yang mampu menjembatani ketiganya secara seimbang dan terarah tak lain adalah guru. Dia berperan bukan hanya sebagai mentor semata, tapi juga sebagai teman. Dari hubungan ini akan muncul satu kedekatan psikologis antara guru dan murid, yang di situ mereka menemukan tempat berlindung dan berbagi. Ini sangat memungkinkan siswa merasakan sekolah adalah tempat yang nyaman seperti rumahnya sendiri. Tak berlebihan jika guru kemudian dianggap sebagai orang tua kedua di sekolah.

Zawawi Imron menyebut bahwa guru yang baik ialah guru yang menganggap semua murid sebagai anak-anaknya sendiri (www.edubenchmark.com). Guru yang baik menurutnya adalah yang mampu memberikan pencerahan masa depan dengan membekali anak didik dengan visi yang tajam dan ilmu yang menjanjikan.

Kita mengenal istilah pedagogic dalam dunia pendidikan. Dalam pengertian Yunani, kata ini dimaknai sebagai ilmu menuntun anak. Masalahnya, tidak semua guru mempunyai ilmu menuntun anak dengan baik dan memadai. Diperlukan rasa cinta bagi guru untuk memiliki ilmu tersebut. Cinta yang tulus tentunya. Filsuf Brazil, Paolo Freire, mengungkapkan, ''Education is an act of love, and thus of an act courage...'' (1973: 17). Dalam pandangannya, cinta adalah salah satu prasyarat penting dalam proses mendidik dan mengajar. Sedangkan dua yang lain adalah kepercayaan dan kewibawaan.

Hakikatnya, anak belajar dari apa yang dilihat dan dirasa, yang nanti berpengaruh besar pada perkembangan mentalnya dan berimplikasi pada tingkah laku dan bahkan orientasi hidupnya di masa datang. Pada konsep belajar sosial yang dicetuskan, Bandura menyebutkan bahwa belajar terjadi karena peniruan (imitation). Penyebab utamanya, misalnya, dengan meniru bunyi yang sering didengar (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2000: 25).

Sebagai tokoh sentral di sekolah, apa pun yang ada pada guru menjadi fokus perhatian siswa: sikap, tingkah laku, tutur kata, cara berpakaian, dan tak kecuali ekspresi wajah. ''Your face...is a book where men may read strange matters''. Begitu tulis penyair Inggris, Shakespeare. Jika siswa bisa menangkap hal yang baik dari gurunya, kecemasan pada diri mereka tentu tidak perlu ada. Karena kecemasan, menurut Sieber (1977), adalah salah satu faktor penghambat belajar dan mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif anak.

Jika siswa menerima cinta dari gurunya, dia akan melihat itu sebagai wujud cinta orang tuanya, yang selanjutnya dia lukiskan sebagai suatu keindahan. Bak keindahan sebuah puisi. (oki)

Anikmah
SD Al Muttaqien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar